Daily Archives: April 9, 2018

Jenis Kegiatan Anak Autis dengan Hiperaktif

Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang berdampak pada kesulitan dalam berinteraksi sosial berkomunikasi berperilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan yang terlambat. Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau lebih dikenal hiperaktif adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak sehingga berperilaku berlebihan Anak yang menderita hiperaktif di dalam dirinya sering berapi-api dan blak-blakan. Menurut penelitian Willcut (2012) bahwa penderita ADHD yang berusia kurang dari 18 tahun sebanyak 6-7%.

Bagi orang biasa dan awam seputar kesehatan mental, anak autis dan hiperaktif sering kali disamakan. Anak autis dan hiperaktif memiliki satu hal yang sama yaitu kesulitan dalam berinteraksi sosial. Bentuk kesulitannya diwujudkan dalam hal berbeda. Anak autis terlalu fokus dengan dunianya, sehingga ia lupa dengan lingkungan sekitar dan orang lain. Anak hiperaktif cenderung untuk melakukan banyak hal tanpa memikirkan sekitar. Supaya bisa memahami lebih dalam dan mampu membedakan anak autis dan hiperaktif, berikut perbedaan autis ringan dan hiperaktif. Perbedaan ini bisa dijadikan acuan gejala atau ciri-ciri anak mengalami autisme atau ADHD.

Jenis Kegiatan Anak Autis dengan Hiperaktif

Anak autis sudah jelas berbeda dengan anak hiperaktif. Anak autis dalam menjalankan kegiatannya akan sangat fokus. Ia tidak suka jika diganggu. Anak autis memiliki kebiasaan yang monoton atau rutin. Apabila kegiatan mereka diubah, maka akan berdampak pada emosional sangat anak.
Anak hiperaktif tentu berbeda cara melakukan aktivitasnya. Anak yang hiperaktif tidak suka berlama-lama diam. Ia akan merasa frustasi atau kesal jika merasa selalu diam. Selain itu, anak hiperaktif berkebalikan dengan anak auti, yaitu tidak suka aktivitas yang monoton. Hal ini dikarenakan anak hiperaktif cepat bosan pada suatu hal.

Cara Interaksi Autis dan Hiperaktif

Pada umumnya anak autis memiliki permasalahan dalam berkomunikasi. Ada penderita yang selalu memiliki jeda atau sulit menyuarakan dalam berbicara. Hal ini sudah dijelaskan sebelumnya karena perkembangan saraf otak penderita autis. Anak autis kesulitan saat berinteraksi dan melakukan kontak mata kepada orang lain. Mereka akan gugup.

Sedangkan anak hiperaktif justru suka sekali berbicara sekalipun tidak memiliki arti. Anak hiperaktif justru sulit diajak berinteraksi karena tidak bisa diam. Ia tidak mendengarkan apa yang orang lain bicarakan, namun ia tidak bisa diam. Bagi seseorang yang belum menyadari mereka adalah anak yang hiperaktif, maka seseorang tersebut akan merasa mereka itu buruk.

Menangani Autis dan Hiperaktif

Anak autis atau hiperaktif tidak memiliki kestabilan dalam bertindak. Mereka akan kesulitan untuk mengikuti aturan di lingkungan sekitar. Mereka terlihat buruk karena perilaku mereka, sehingga perlu ada kontrol dari orangtua. Orangtua dapat melakukan penanganan yang tepat bagi anak-anak yang menderita autis atau hiperaktif, sebagai berikut

1. Memberitahu dan jelaskan kondisi lingkungan anak dan cara menghadapinya
2. Melatih anak untuk mendengarkan orang lain agar teman sebayanya mau berteman dengan mereka
3. Memilih gaya belajar yang tepat. Anak autis akan terlalu fokus hingga lupa sekitar, sehingga buat anak agar tidak berada di dunianya sendiri. Sedangkan anak hiperaktif yang sulit fokus, sehingga buat kegiatan belajar mengajar tetap menyenangkan
4. Jangan berbicara negatif di depan anak yang bisa membuat anak merasa hal negatif tersebut adalah hal yang benar