All posts by adm109

Jenis Kegiatan Anak Autis dengan Hiperaktif

Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang berdampak pada kesulitan dalam berinteraksi sosial berkomunikasi berperilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan yang terlambat. Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau lebih dikenal hiperaktif adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak sehingga berperilaku berlebihan Anak yang menderita hiperaktif di dalam dirinya sering berapi-api dan blak-blakan. Menurut penelitian Willcut (2012) bahwa penderita ADHD yang berusia kurang dari 18 tahun sebanyak 6-7%.

Bagi orang biasa dan awam seputar kesehatan mental, anak autis dan hiperaktif sering kali disamakan. Anak autis dan hiperaktif memiliki satu hal yang sama yaitu kesulitan dalam berinteraksi sosial. Bentuk kesulitannya diwujudkan dalam hal berbeda. Anak autis terlalu fokus dengan dunianya, sehingga ia lupa dengan lingkungan sekitar dan orang lain. Anak hiperaktif cenderung untuk melakukan banyak hal tanpa memikirkan sekitar. Supaya bisa memahami lebih dalam dan mampu membedakan anak autis dan hiperaktif, berikut perbedaan autis ringan dan hiperaktif. Perbedaan ini bisa dijadikan acuan gejala atau ciri-ciri anak mengalami autisme atau ADHD.

Jenis Kegiatan Anak Autis dengan Hiperaktif

Anak autis sudah jelas berbeda dengan anak hiperaktif. Anak autis dalam menjalankan kegiatannya akan sangat fokus. Ia tidak suka jika diganggu. Anak autis memiliki kebiasaan yang monoton atau rutin. Apabila kegiatan mereka diubah, maka akan berdampak pada emosional sangat anak.
Anak hiperaktif tentu berbeda cara melakukan aktivitasnya. Anak yang hiperaktif tidak suka berlama-lama diam. Ia akan merasa frustasi atau kesal jika merasa selalu diam. Selain itu, anak hiperaktif berkebalikan dengan anak auti, yaitu tidak suka aktivitas yang monoton. Hal ini dikarenakan anak hiperaktif cepat bosan pada suatu hal.

Cara Interaksi Autis dan Hiperaktif

Pada umumnya anak autis memiliki permasalahan dalam berkomunikasi. Ada penderita yang selalu memiliki jeda atau sulit menyuarakan dalam berbicara. Hal ini sudah dijelaskan sebelumnya karena perkembangan saraf otak penderita autis. Anak autis kesulitan saat berinteraksi dan melakukan kontak mata kepada orang lain. Mereka akan gugup.

Sedangkan anak hiperaktif justru suka sekali berbicara sekalipun tidak memiliki arti. Anak hiperaktif justru sulit diajak berinteraksi karena tidak bisa diam. Ia tidak mendengarkan apa yang orang lain bicarakan, namun ia tidak bisa diam. Bagi seseorang yang belum menyadari mereka adalah anak yang hiperaktif, maka seseorang tersebut akan merasa mereka itu buruk.

Menangani Autis dan Hiperaktif

Anak autis atau hiperaktif tidak memiliki kestabilan dalam bertindak. Mereka akan kesulitan untuk mengikuti aturan di lingkungan sekitar. Mereka terlihat buruk karena perilaku mereka, sehingga perlu ada kontrol dari orangtua. Orangtua dapat melakukan penanganan yang tepat bagi anak-anak yang menderita autis atau hiperaktif, sebagai berikut

1. Memberitahu dan jelaskan kondisi lingkungan anak dan cara menghadapinya
2. Melatih anak untuk mendengarkan orang lain agar teman sebayanya mau berteman dengan mereka
3. Memilih gaya belajar yang tepat. Anak autis akan terlalu fokus hingga lupa sekitar, sehingga buat anak agar tidak berada di dunianya sendiri. Sedangkan anak hiperaktif yang sulit fokus, sehingga buat kegiatan belajar mengajar tetap menyenangkan
4. Jangan berbicara negatif di depan anak yang bisa membuat anak merasa hal negatif tersebut adalah hal yang benar

Beberapa Faktor Penyebab Anak Lahir Autis Serta Cara Memilih Pendidikan yang Tepat Untuknya

Sampai saat ini, penyebab autisme belum bisa ditentukan secara pasti. Akan tetapi, ada beberapa hal yang dinilai memicu autisme, yakni:

  1. Jenis kelamin, anak laki-laki lebih beresiko 4 kali lebih besar dibandingkan anak perempuan

  2. Faktor keturunan, orang tua yang mengidap autis beresiko memiliki anak dengan kondisi yang sama

  3. Asupan selama mengandung, seperti alkohol dan obat-obatan

  4. Kelahiran prematur, pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang

  5. Gangguan lainnya, seperti sindrom Rett, sindrom Down, dan sindrom Tourette

Cara Memilih Pendidikan untuk Anak Autis

Karena kondisinya berbeda-beda, setiap anak autis belum tentu cocok bersekolah di tempat yang sama. Terdapat anak yang bisa disekolahan di sekolah umum. Di sisi lain, terdapat juga anak yang dianjurkan untuk bersekolah di sekolah anak berkebutuhan khusus. Selain itu, apabila orang tua bisa bersikap rajin dan sabar, anak autis juga bisa mengikuti homeschooling. Sebagai referensi, berikut beberapa sekolah umum maupun sekolah anak autis yang ada di Jakarta.

Sekolah Umum yang Menerima Anak Autis di Jakarta

Untuk dapat diterima di sekolah umum, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya seperti memiliki tingkat kecerdasan tertentu, mampu berkomunikasi verbal, serta melakukan kontak mata. Meskipun diajari oleh guru SD umum, sekolah-sekolah berikut juga memiliki terapis pendamping.

1.SDN Bendungan Hilir Pagi
2. SDN Johar Baru 29 Pagi
3. SDN Cempaka Putih Barat 16 Pagi
4. SDN Pluit 06 Petang
5. Sekolah Al Fath
6. Sekolah Cikal
7. High Scope
8. Sekolah Mutiara Indonesia

Beberapa Sekolah Autis di Jakarta

Jika anak dirasa belum mampu bersekolah di sekolah umum, sebaiknya anak dimasukkan ke sekolah khusus. Sebab, lingkungan sekolah khusus lebih ‘bersahabat’ baginya. Mereka juga menyediakan fasilitas yang lengkap. Berikut beberapa daftar sekolah khusus anak autis di Jakarta

1. Saraswati Learning Center
2. Sekolah Autis Cipta Anugerah
3. Sekolah Kejuruan Anak Autis Imaculata
4. Sekolah Luar Biasa Autis Mandiri
5. Sekolah Mandiga
6. SLB Pelita Hati
7. KID Autis
8. SLB C. Autis Mutiara